Jumat, 21 November 2014

ARTIKEL NANOTEKNOLOGI YANG MENDUKUNG GREEN INDUSTRY

IHSAN SYAFIRA ANGGASTA
Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Mercubuana
Jl. Raya Meruya Selatan No.1 Kembangan, Jakarta Barat 11650 Telp. 021 584 0816


Istilah Green industry akhir-akhir ini sering terdengar di telinga kita. Jangan terjemahkan green industry semata-mata menjadi industri hijau, karena green industry tidak hanya selalu seputar industri yang mengangkat isu lingkungan sebagai tema untuk menggencarkan promosi saja, namun lebih dari itu green industry adalah konsep holistic dari industri yang ramah terhadap lingkungan. Green industry merupakan industri yang didesain secara berkelanjutan (sustainable designed) dengan tujuan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, kesehatan,dan penggunanya. Konsep sustainable designed tersebut pada dasarnya merupakan kemampuan memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengganggu kemampuan generasi mendatang untuk melakukan hal yang sama.
          Hal ini berarti, generasi anak cucu kita harus juga memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhannya akan air bersih, udara bersih, energi, dan sumber daya alam lainnya yang sama dengan apa yang kita konsumsi sekarang. Untuk memenuhi kemampuan tersebut, generasi kita inilah yang memiliki peran penting untuk memanfaatkan sumber daya alam dengan semestinya, sehingga generasi mendatang juga memperoleh manfaat yang sama. Limbah harus dianggap sebagai hasil samping atau disinilah nanoteknologi berperan. nanoteknologi menciptakan produk yang sangat membantu untuk konsep zero waste. Misalnya untuk membersihkan air limbah seperti yang dihasilkan industri tekstil, yang merupakan salah satu limbah industri yang sulit diurai. Dengan menggunakan nano-titanium, (bisa dalam bentuk kompositnya), pengotor dalam limbah cair tersebut dapat diuraikan dan air buangannya dapat digunakan kembali. Kekuatan nanoteknologi tidak berhenti sampai disitu saja. Dengan nanoteknologi, bahan alam dapat didisain sedemikian rupa menjadi produk antara yang mencegah terjadinya pemborosan dalam penggunaan selanjutnya.
          Dengan menyusun ulang atau merekayasa struktur material di level nanometer, maka akan diperoleh suatu bahan baku yang memiliki sifat istimewa jauh mengungguli material asalnya, sehingga limbah yang selama ini dihasilkan dapat dikurangi. Berbagai contoh, diantaranya limbah kantong plastik yang selama ini dipergunakan untuk kemasan belanja dapat mengancam lingkungan karena masa penguraiannya membutuhkan waktu yang sangat panjang. Dengan memanfaatkan nanoteknologi, plastik kemasan yang kuat namun mudah terurai (degradable plastic) dapat dihasilkan. Contoh lain, nanoteknologi digunakan untuk mebuat lapisan kaca yang tahan terhadap debu, sehingga penggunaannya sebagai kaca otomotif dapat mengurangi fungsi “wiper”. Penggunaannya di industri tekstil dapat menghasilkan kain yang tidak mudah terkena noda, tidak mudah kotor dan bau serta tidak mudah kusut. Penggunaannya di industri keramik di antaranya menjadikan produk keramik menjadi gampang dibersihkan dan kuat. Contoh lainnya adalah penggunaan nano-komposit dalam kemasan makanan, dengan semacam jendela nano yang dapat menjadi indikator batas ambang kadaluarsa makanan yang dikemas. Nanoteknologi pun dapat digunakan untuk menampung panas matahari secara sangat efektif dalam bentuk solar cell sebagai alternatif sumber energi selain listrik dan minyak bumi.
            Keunggulan yang dimilikinya tersebut menjadikan nanoteknologi menjadi fokus penelitian negara-negara di dunia. Untuk Indonesia, kegiatan penelitian dan pengembangan nanoteknologi telah dimulai di beberapa lembaga riset, yaitu LIPI, BATAN, BPPT, LAPAN, MRC, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertahanan, dan lainnya. Di Kementerian Perindustrian, penelitian dilakukan oleh Balai-balai di lingkungan BPPI. Salah satu diantaranya adalah pengembangan nano-PCC bekerjasama dengan Universitas Andalas yang selanjutnya dipakai untuk meningkatkan kualitas cat tembok, keramik, dan kertas. Selain itu nano-titanium diteliti untuk pemurnian air, dan nano-fiber untuk industri produk tekstil, serta degradrable plastic menggunakan nano-polimer, dsb. Aplikasi nano-partikel di Indonesia sudah dilakukan oleh beberapa sektor industri, diantaranya keramik, tekstil, elektronika, dan farmasi. Perkembangannya cukup positif, pada tahun 2008 industri yang menerapkan nanoteknologi mencapai 35%, dan mengalami peningkatan pada tahun 2009, yaitu mencapai 47%. Walaupun sebagian besar teknologi yang digunakan merupakan teknologi impor, penggunaan teknologi lokal telah mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2008, penggunaan teknologi lokal sebesar 11%, dan meningkat menjadi 36% pada tahun 2009.
            penerapan nanoteknologi ini akan sangat mendukung penerapan green industry, bahkan akan menjadi tumpuan daya saing industri nasional kita di masa yang akan datang, terutama karena Indonesia memiliki keunggulan berupa kekayaan sumber daya alam dalam bentuk berbagai bahan tambang yang sangat mungkin ditingkatkan nilai tambahnya. BPPI pun telah menetapkan pengembangan nanoteknologi sebagai prioritas bersama dengan pengembangan industri yang berwawasan lingkungan (green industry).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar