Rabu, 07 Januari 2015

INDONESIA SUDAH HARUS MENERAPKA ISO 14001 GUNA MELESTARIKAN ALAM

Artikel :



INDONESIA SUDAH HARUS MENERAPKA ISO 14001 GUNA MELESTARIKAN ALAM
Ketika perusahaan beroperasi, maka proses bisnis yang dilakukan oleh perusahaan tersebit berpotensi untuk menimbulkan dampak terhadap lingkungan, baik dampak positif maupun dampak negatif. Pada prinsipnya dampak yang timbul dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu dampak bio-kimia-fisik dan dampak sosial. Contoh dari dampak bio-fisik-kimia misalnya pencemaran air, pencemaran udara, kerusakan keanekaragaman hayati, atau pengurangan cadangan air tanah. Semua jenis dampak ini akan memberikan resiko yang mempengaruhi bisnis yang dijalankan oleh perusahaan. Misalnya pencemaran air yang ditimbulkan oleh aktivitas perusahaan, akan memberikan resiko pertanggungjawaban dalam bentuk tuntutan pidana dan tuntutan perdata, apakah tuntutan tersebut dari pemerintah, masyarakat, atau lembaga swadaya masyarakat (LSM).
Ketika perusahaan berupaya untuk menerapkan ISO 14001, maka perusahaan tersebut telah memiliki komitmen untuk memperbaiki secara menerus kinerja lingkungannya. Namun, satu hal perlu dingat bahwa ISO 14001 merupakan standar yang memadukan dan menyeimbangkan kepentingan bisnis dengan lingkungan hidup. Sehingga, upaya perbaikan kinerja yang dilakukan oleh perusahaan akan disesuaikan dengan sumberdaya perusahaan, apakah itu sumberdaya manusia, teknis, atau finansial.
Adabaiknya kalau perbaikan kinerja lingkungan tidak dapat dicapai dalam waktu singkat karena keterbatasan finansial. Misalnya, sebuah perusahaan yang proses bisnisnya menimbulkan limbah cair yang mencemari lingkungan berupaya untuk menerapkan ISO 14001 di perusahaannya.
Dari jurnal yang berjudul Dimensi Sistem Manajemen Lingkungan yang Dominan terhadap upaya Produksi Bersih Perusahaan (Studi Kasus Industri Pengolahan Karet Remah) yang ditulis oleh Sawarni Hasibuan menjelaskan bahwa hingga saat ini komoditas karet masih menjadi tumpuan mata pencaharian Petani. Disini dapat kita lihat ternyata masih banyak hal-hal yang harus dibenahi lagi, mengingat saat ini Indonesia merupakan Negara Produsen kedua di dunia setelah Thailand. Produksi karet tersebut di ekspor ke 166 negara. Namun apabila pengolahanya tidak benar maka tidak akan memberikan keuntungan finansial.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar