INDONESIA SUDAH HARUS
MENERAPKA ISO 14001 GUNA MELESTARIKAN ALAM
Ketika
perusahaan beroperasi, maka proses bisnis yang dilakukan oleh perusahaan
tersebit berpotensi untuk menimbulkan dampak terhadap lingkungan, baik dampak
positif maupun dampak negatif. Pada prinsipnya dampak yang timbul dapat
dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu dampak bio-kimia-fisik dan dampak
sosial. Contoh dari dampak bio-fisik-kimia misalnya pencemaran air, pencemaran
udara, kerusakan keanekaragaman hayati, atau pengurangan cadangan air tanah.
Semua jenis dampak ini akan memberikan resiko yang mempengaruhi bisnis yang
dijalankan oleh perusahaan. Misalnya pencemaran air yang ditimbulkan oleh
aktivitas perusahaan, akan memberikan resiko pertanggungjawaban dalam bentuk
tuntutan pidana dan tuntutan perdata, apakah tuntutan tersebut dari pemerintah,
masyarakat, atau lembaga swadaya masyarakat (LSM).
Ketika
perusahaan berupaya untuk menerapkan ISO 14001, maka perusahaan tersebut telah
memiliki komitmen untuk memperbaiki secara menerus kinerja lingkungannya.
Namun, satu hal perlu dingat bahwa ISO 14001 merupakan standar yang memadukan
dan menyeimbangkan kepentingan bisnis dengan lingkungan hidup. Sehingga, upaya
perbaikan kinerja yang dilakukan oleh perusahaan akan disesuaikan dengan sumberdaya
perusahaan, apakah itu sumberdaya manusia, teknis, atau finansial.
Adabaiknya
kalau perbaikan kinerja lingkungan tidak dapat dicapai dalam waktu singkat
karena keterbatasan finansial. Misalnya, sebuah perusahaan yang proses
bisnisnya menimbulkan limbah cair yang mencemari lingkungan berupaya untuk
menerapkan ISO 14001 di perusahaannya.
Dari jurnal yang berjudul Dimensi Sistem Manajemen Lingkungan yang
Dominan terhadap upaya Produksi Bersih Perusahaan (Studi Kasus Industri
Pengolahan Karet Remah) yang ditulis oleh Sawarni Hasibuan menjelaskan bahwa hingga saat ini komoditas karet
masih menjadi tumpuan mata pencaharian Petani. Disini dapat kita lihat ternyata
masih banyak hal-hal yang harus dibenahi lagi, mengingat saat ini Indonesia
merupakan Negara Produsen kedua di dunia setelah Thailand. Produksi karet
tersebut di ekspor ke 166 negara. Namun apabila pengolahanya tidak benar maka
tidak akan memberikan keuntungan finansial.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar